Re dan Perempuan



Resensi Buku


Identitas Karya Sastra

Judul buku : Re dan Perempuan

Pengarang : Maman Suherman

Tahun terbit : 2021

Reviewer: Aswad/SL


 


Kutipan buku : "Banyak orang menyukai gelap. Seperti banyak orang menyukai kopi, pahit tapi nikmat. Tanpa gelap, kita tak mungkin ada istirahat dan tidur malam yang nyenyak." -Re:



Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan kriminologi bernama Herman yang sedang melakukan penelitian guna memenuhi kebutuhan skripsinya. Buku ini membawa kita untuk melihat bagaimana kehidupan seorang pelacur yang problematik dan jauh dari hidup yang aman. Dalam penelitiannya, Herman bertemu dengan seorang pelacur yang bernama Rere. Rere hidup dan bekerja sebagai seorang pelacur lesbian yang di mana hari-harinya dihabiskan bersama perempuan-perempuan yang berasal dari antah berantah untuk menunaikan hasrat seksualitas satu sama lainnya. Re sendiri bekerja sebagai seorang pelacur bukan atas kemauan sendiri, melainkan karena dipaksa dan dijebak. Dalam momen ini, pilihan pun tak berpihak padanya. Hal yang membuat saya tertarik pada buku ini ialah ketika kita diajak sebagai seorang pembaca untuk melihat suatu realitas terkait isu rentan pada perempuan selama ini, bukan hanya terjadi dari aspek peran dan struktur sosial saja, tetapi jauh sebelum sampai ke sana ada yang namanya "ketidakterdayaan hidup". Dalam hal ini, semakin tidak berdayanya seseorang, maka pengambilan keputusan justru mengarah pada ketimpangan. Terlebih lagi, dalam buku ini dibahas bagaimana kapitalisme bekerja di dunia prostitusi yang perlahan mengeksploitasi mereka, para pelacur.



Buku ini sangat recommended bagi kalian yang ingin lebih mengenal dan mengetahui bagaimana perempuan bisa rentan terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Dan lewat buku ini juga kita tahu bagaimana seharusnya kita merespons atas kondisi mereka yang sudah tidak berdaya lagi. Lewat cerita Re dan Perempuan mengajarkan kita bahwa seburuk-buruknya dan sepahit-pahitnya hidup mati bukanlah pilihan. Tetaplah hidup meski orang-orang mengstigmatisasi buruk kepada kita, karena di lain sisi kehadiran kita mungkin bisa memberi manfaat untuk sebagian orang. Di era sekarang, kita terlalu sering menganggap bahwa pilihan hadir untuk kita bisa memilih antara baik dan buruk, tapi lupa bahwa baik dan buruk juga berasal dari norma dan stigmatisasi masyarakat kita sendiri. Kitalah yang menciptakan itu, sehingga penting bagi kita melihat kembali dan menyadari bahwa pilihan buruk tak selamanya disertai oleh keburukan, pun sebaliknya. Jika kita memilih yang baik terus-menerus, lantas di mana peran keburukan? Life is balance, " good for them, bad for them." 

Re dan Perempuan Re dan Perempuan Reviewed by Silo Langi on 3/12/2026 08:28:00 PM Rating: 5

No comments: