![]() |
| Photo Source: Pinterest |
Puisi Oleh Aj. Angkara (Mahasiswa FKIP UNTAD angkatan 2022)
“Pernahkah kau menghitung...
Berapa kali kau datang lebih awal
dan pulang paling akhir,
tanpa ada satu pun yang menanyakan kenapa matamu tampak
lebih berat daripada galon yang kau panggul?
Di rapat, kita bicara soal banner,
soal snack yang tertukar,
tapi tak pernah ada yang bertanya:
“Bagaimana caramu tetap berdiri saat semangatmu mulai pincang?”
“Siapa yang kau pikirkan diam-diam, saat semua sibuk berteriak
soal rundown?”
Aku tidak marah.
Hanya kadang bertanya dalam diam:
"Adakah cinta yang tumbuh dari kabel yang kusut,
dari peluh yang jatuh di lantai aula,
dari langkah yang tak pernah sempat berhenti untuk mencintai diri
sendiri?"
Lalu suatu hari, kau datang membawa kopi,
dan aku tahu tidak semua kepedulian harus bersuara.
Ada cinta yang tak berbentuk,
tapi terasa sampai ke tulang.
Aku ingin bilang:
bukan mikrofon yang paling peka,
tapi tatapanmu yang mencatat kelelahan yang tak diucap.
Bukan kamera yang paling jujur,
tapi senyummu yang membuat semua sibukku terasa cukup.
Jika ini adalah akhir dari segalanya,
biarlah aku tak dikenal sebagai panitia,
tak disebut di akhir acara.
Tapi aku ingin kau tahu:
aku jatuh cinta padamu,
dalam cara yang tak sempat kupilih...
Disela tumpukan banner,
di balik meja konsumsi,
di diamku yang selalu kau mengerti.
Malam ini, saat panggung ditutup, aku tak mencari tepuk tangan.
Aku hanya berharap,
kau membaca puisi ini
dan diam sebentar saja…
di sini,
di tempat yang bahkan rundown tak menyentuhnya,
tapi hatiku menunggumu di sana.”
Reviewed by Silo Langi
on
6/05/2026 01:08:00 PM
Rating:



No comments: