Resensi Buku
Identitas Karya Sastra
Judul buku : Perang
Pengarang : Rama Wirawan
Tahun terbit : 2026
Reviewer: Walo/SL
Pada bulan lalu, tepatnya pada tanggal 23 Februari 2026, saya membaca sebuah novel tipis berhalaman 176 yang berjudul Perang. Buku ini ditulis oleh Rama Wirawan, seorang sastrawan asal Jakarta. Dalam bukunya, ia mengisahkan sesosok pria bernama Perang Hayat, pria muda yang haus akan kebebasan dan pilihan untuk bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
Rama Wirawan menggambarkan karakter Perang sebagai anak muda yang kritis dan idealis pada masa kuliahnya, di mana semua pendiriannya yang dulu melawan penindasan itu harus redup sesaat memasuki dunia kerja yang kejam. Sosok yang dulunya idealis terpaksa tunduk kepada realitas dunia tentang bagaimana ke depannya dan beban sebagai seorang anak yang harus membantu memenuhi kebutuhan orang tuanya. Namun, percikan perlawanannya itu tidak sepenuhnya padam. Karakter Perang kembali mendapatkan rasa untuk melawan atas tindakan yang salah setelah bertemu dengan salah satu rekan kerja bernama Deni.
Seorang yang dicap sebagai pekerja yang buruk di perusahaannya, Deni dilabelkan sebagai pekerja yang sering lambat datang dan bahkan pernah mencuri salah satu aset perusahaan, tetapi tindakan ini bukanlah tanpa alasan bagi Deni. Itu adalah pembalasan atas waktu-waktunya yang telah tersia-siakan oleh perusahaan yang memaksa mereka bekerja secara tidak manusiawi. Membuat perang menemukan kembali rasa untuk merebut kembali haknya sebagai seorang manusia yang berhak memilih.
Perjalanan perang dalam buku ini untuk menemukan jati dirinya yang mandiri dan lepas dari tatanan umum, serta menemukan kompromi antara kebutuhan dan kenyamanan hidupnya, menunjukkan jiwa atau spirit yang terus maju dan peka akan kepedulian sosial di sekitarnya. Perjalanan ini berakhir dengan dia menemukan cinta sejati, yaitu seorang wanita bernama Mira yang mempunyai spirit yang sama dengannya. Bersama, mereka terus melawan dengan tindakan kecil seperti menyebarkan poster revolusi pada bagian akhir buku, demi memberikan kesadaran untuk memilih kebebasan mereka dari tindakan eksploitasi sekecil apa pun, demi kebebasan hidup yang telah mereka renggut kembali.
Reviewed by Silo Langi
on
3/12/2026 08:41:00 PM
Rating:



No comments: