Virus Baca: Dari Seribu, Hanya Satu Orang yang Terjangkiti



Ketika Harun al-Rasyid, seorang pemimpin (Khalifah) di Baghdad tahun 786 – 809 Masehi memerintahkan para penulis untuk memburu buku dari berbagai penjuru dunia, menerjemahkan ke bahasa arab,  dan menuliskannya dalam lembaran kertas, maka perpustakaan era moderen telah dimulai.

Bayt Al Hikmah yang didirikan pada masa kepemimpinan dinasti Abbasiah menjadi kebanggaan warga Baghdad (Iraq) kala itu. Kota Baghdad bahkan disebut-sebut sebagai bukti puncak masa keemasan peradaban Islam. Disanalah perpustakaan moderen pertama yang menuliskan manuskrip di atas kertas, menghimpunya dan melahirkan sekitar 400 ribu manuskrip.

Sejak saat itu, perpustakaan moderen mewabah kemana-mana. Hingga kini budaya berburu buku, mengumpulkan dan menerjemahkannya masih berlangsung. Beberapa dekade belakangan, perpustakaan bahkan menjadi sebuah bukti dan tolak ukur perkembangan keilmuan di suatu negara. Beberapa diantaranya bahkan berlomba adu gengsi, sebut saja Amerika, Inggris, Cina, dan Rusia yang saat ini mendeklarasikan diri sebagai negara dengan perpustakaan terbesar di dunia.

Perpustakaan Kongres (Library of Congress) di Amerika pada tahun 2007 mengklaim memiliki 29 juta buku dari sekitar 130 juta bahan pustaka. Sementara Perpustakaan Inggris (British Library) hanya memiliki 25 juta buku dari sekitar 150 juta bahan pustaka.

Buku menjadi pertaruhan gengsi dan pembuktian kemajuan peradaban. Dan memang, buku berperan sangat penting bagi perkembangan keilmuan dan peradaban manusia, hingga buku menemukan bentuk barunya saat Michael Hart memperkenalkan e-book (buku elektronik) untuk pertama kali tahun 1971. Sejak itu e-book berkembang hingga menyaingi keberadaan buku cetak.

Membincang tentang sejarah perpustakaan dan bagaimana negara-negara maju bertaruh gengsi, bersaing dalam literasi dan ilmu pengetahuan memang menyenangkan. Lalu bagimana dengan trend buku dan literasi di negara kita?.

Indonesia hingga saat ini masih menghadapi persoalan minat baca. Patutlah kita merasa prihatin mendengar laporan dari UNESCO bahwa indeks minat baca warga Indonesia tahun 2012 baru mencapai angka 0,001. Artinya setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.

Hiburan televisi dan interaksi yang massif di situs jejaring sosial dunia maya ditengarai menjadi penyebab warga menjauhi buku. Belum lagi ditambah dengan kurangnya sarana perpustakaan yang memenuhi standar.

Fadli Zon, pemilik Fadli Zon Library mengungkapkan, dari 110 ribu sekolah yang ada di Indonesia hanya 18% yang terindentifikasi mempunyai perpustakaan. Dari 200 ribu unit Seklah Dasar di Indonesia, hanya 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Dari 70 ribu SMP hanya 36% yang memiliki perpustakaan standar, dan 54% SMA yang mempunyai perpustakaan standar.

Dari segi produktifitas buku, lagi-lagi Indonesia masih sangat tertinggal, bahkan dibandingkan dengan negara tetangga. Data 2010 menyebutkan dalam setahun Indonesia hanya memproduksi 8 ribu buku. Bandingkan dengan Malaysia yang memproduksi buku hingga 15 ribu, Jepang 60 ribu dan Inggris 110 ribu buku.

Menyuguhkan data, lantas menggerami kenyataan yang ada tidaklah cukup. Saatnya pribadi-pribadi belajar mengidap virus membaca dan kembali menyebarkannya. Di masyarakat, kelompok-kelompok literasi harus merapatkan barisan, melakukan diskusi, resensi, bedah buku, hingga menjaring penulis-penulis muda untuk diorbitkan.

Filosofi “Bacalah” yang sempat populer dalam ceramah-ceramah keagamaan harus menjadi trending topic lagi untuk dilakoni bukan hanya diteriakkan.

Atau memang bisnis tawa dan hantu di televisi serta senggama dengan dunia maya lebih mengasyikkan dan mencerdaskan.
___
Palu, 24 Februari 2014

Virus Baca: Dari Seribu, Hanya Satu Orang yang Terjangkiti Virus Baca: Dari Seribu, Hanya Satu Orang yang Terjangkiti Reviewed by silo langi on 2/24/2014 05:24:00 AM Rating: 5

No comments: