Membangun Generasi Kontributif


Jum’at sore diakhir Februari 2014, belasan orang mengitari sebuah meja persegi yang memanjang di salah satu sudut ruangan. Di beberapa meja lain, sekumpulan orang juga sibuk dengan topiknya masing-masing. Sengat matahari katulistiwa masih terasa meski ruangan itu terlindungi oleh atap dengan fentilasi udara yang cukup. Kota Palu memang terkenal dengan sengatan mentarinya.

Rumah makan Heni Putri Kaili menjadi tempat berlangsungnya Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Politik Pemilih Pemula dan Hak Asasi Manusia (HAM). Arie Putra selaku inisiator terlihat sibuk menjadi dinamisator diskusi. Belasan peserta yang hadir terdiri mahasiswa dari berbagai perwakilan universitas di Palu.

Arie mewakili empat lembaga independen hadir di Palu dalam rangka penelitian Politik Pemilih Pemula. Keempat lembaga tersebut adalah Lembaga kajian Demokrasi dan HAM (Demos), Sekitar Kita, Pamflet, dan Unity. “Secara garis besar, keempat lembaga ini bekerja dibidang pemuda serta pendidikan politik dan HAM.

Palu menjadi salah satu dari lima kota sasaran program ini. Kota lain adalah Cirebon, Jakarta, Jayapura, dan Pekan Baru. Menurut Arie penelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi dan kebutuhan pemuda dan kontribusinya dalam pembangunan Indonesia saat ini.

“Tema besar dari program ini adalah Youth Right Now, setidaknya ada tiga tujuan yang ingin kami capai. Pertama mengidentifikasi masalah HAM dan partisipasi politik pemuda, kedua, memiliki data dasar yang akan menjadi pertimbangan strategi pembinaan pemuda, ketiga, melahirkan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk merumuskan konsep pendidikan,” jelas Arie.

Setelah rangkaian program ini terlaksana, Arie dan kawan-kawan rencananya akan berlanjut ke tahap berikutnya yakni pembuatan modul. “Kita akan melaksanakan pelatihan, data yang dikumpulkan juga rencananya akan dibuatkan portal berita tentang HAM,” ungkap Arie.

Menurut Arie kondisi yang dihadapi pemuda saat ini sudah berbeda dengan pemuda tahun 1966 atau generasi 1998. “Reformasi sudah berlalu, begitupun masa transisi, diskusi ideologi sudah tidak trend lagi, konfrontasi dengan pejabat juga sudah tidak zaman. Sekarang pemuda dituntut untuk berkontribusi bagi negara, bisa lewat pendidikan politik atau kerja-kerja kreatif lainnya yang bertujuan untuk membangun Indonesia lebih baik,” ujar Arie.

Tujuan program ini menurut alumni Universitas Indonesia ini adalah generasi yang kreatif, solutif, dan memiliki sumbangsi nyata. “Bukan berarti generasi kritis tidak dibutuhkan, tapi cara mengktritisi sudah harus bergeser, tidak elegan lagi memakai cara-cara lama. Generasi Kontributif adalah tujuan akhir kita,” katanya.

Diakhir diskusi masing-masing peserta diberi kesempatan untuk memberi pendapat akhirnya. Umumnya peserta berpikir pemilih mahasiswa terkesan apatis terhadap perkembangan politik maupun pemilu. [Edi Setiawan]

Membangun Generasi Kontributif Membangun Generasi Kontributif Reviewed by silo langi on 3/04/2014 01:08:00 AM Rating: 5

No comments: