Bincang Seni #16: Catatan Seorang Pejalan Kaki

Foto by: Andi Ikbal, SL/"potret Abah Tjatjo saat gilirannya berbicara pada Bincang Seni #16"


SilolangiNews-Palu. Hari itu sudah akan beranjak menuju malam hari ketika salah seorang dari Komunitas Lobo membuka acara Bincang Seni yang ke 16.  Kantor Dinas Kearsipan dan dan Perpustakaan Kota Palu kembali menjadi saksi, pada Sabtu (23/09/2023).


Bincang seni yang ke-16 ini adalah agenda kedua dalam Festival Sastra Tadulako Notutura. Sebelumnya, telah ada bincang seni yang ke-14 yang mewarnai rangkaian festival tersebut. Bincang seni kali ini menghadirkan Tjatjo Tuan Saichu Al Idrus atau sering disapa Aba Tjatjo sebagai pembicara. Ia merupakan seorang sastrawan Sulawesi Tengah dan seorang pelestari bahasa daerah Kaili. 


Selain itu juga ada Jambrin Abubakar, seorang wartawan dan penulis tentang seni budaya yang beraktivitas di wilayah Donggala dan kota Palu, Sulawesi Tengah. Ia turut menjadi narasumber dalam bincang seni ini, dan menjadi pembicara pertama saat kegiatan berlangsung.


Dalam penyampaiannya, Jambrin Abubakar mengungkapkan bahwa terdapat hal yang menarik, sehingga bukunya ia beri judul "Catatan seorang pejalan kaki".


"Ada hal yang menarik sehingga kenapa buku itu saya beri judul Catatan Seorang Pejalan Kaki. Ada dua nilai filosofi di dalamnya. Kebetulan buku itu adalah pilahan-pilahan dari kumpulan puisi, yang dimana terdapat puluhan puisi di dalamnya" paparnya 


Jambrin Abubakar juga menambahkan terkait makna dari buku yang berjudul Catatan Seorang Pejalan Kaki itu


"Yang saya maksud dari buku Catatan Seorang Pejalan Kaki adalah sebuah catatan perjalanan sosial keprihatinan dan persoalan-persoalan Indonesia secara konteks lokal dan global" tambahnya.


Sementara itu, Aba Tjatjo dalam penuturannya bercerita panjang tentang perjalanannya dalam berkarya.


"Di kelas 5 SD saya mulai mengarang cerita yang judulnya Anak Tiri dan dipentaskan oleh SMP Negeri Tompe. Kelas 2 saya sudah mulai menulis. Kenapa? Karena saya sebelum masuk SD sudah bisa membaca. Akhirnya tahun 1963, saya diloncat ke kelas 4 oleh tante saya . Selesai tamat SMP, di SMP saya tidak terlalu perhatian lagi tetapi saya tetap membaca dengan kewajiban yang sudah saya tetapkan untuk harus membaca setiap hari 2 jam. Di SMA, saya mulai menulis kumpulan puisi saya Cinta Tanah Air, 21 puisi yang pada waktu saya ke Palembang kongres PII, hancur saya tinggalkan disitu 130 puisi. Dan 23 cerpen yang sering dibaca di RRI dulu oleh teman saya" terangnya


Dalam kegiatan ini, setelah pemaparan dari dua narasumber yang hadir juga diadakan sesi diskusi. Para peserta kegiatan silih berganti berpendapat dan bertanya kepada narasumber. Kegiatan berakhir pada malam hari pukul 20.00 lewat, ketika moderator menutup secara resmi kegiatan tersebut.


Penulis: Nismawati, SL

Bincang Seni #16: Catatan Seorang Pejalan Kaki Bincang Seni #16: Catatan Seorang Pejalan Kaki Reviewed by Silo Langi on 10/08/2023 04:02:00 PM Rating: 5

No comments: