![]() |
| Photo Source: Pinterest |
Cerpen oleh Inaya Senandika (Mahasiswa FKIP angkatan 2025)
Aku tidak pernah benar-benar belajar bagaimana cara meninggalkan seseorang yang ingin aku bawa ke semua rencana hidupku.
Pagi itu terasa biasa saja. Matahari masuk dari sela tirai, kopi di meja masih mengepul, dan notifikasi ponselku tetap sunyi. Tapi ada yang berbeda, ada yang hilang. Bukan sesuatu yang bisa dilihat, tapi terasa jelas di dada. Seperti ruang yang tiba-tiba kosong, padahal sebelumnya penuh. Namamu.
Aku masih ingat jelas bagaimana semuanya dimulai. Tidak ada hal yang terlalu istimewa, tidak juga terlalu dramatis. Hanya percakapan sederhana yang perlahan berubah jadi kebiasaan. Lalu kebiasaan itu berubah jadi kebutuhan.
Dan tanpa sadar, kamu menjadi bagian dari semua hal kecil dalam hidupku.
Aku mulai membayangkan masa depan, bukan sekadar tentang diriku, tapi tentang kita.
Aku ingin mengajakmu ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi. Aku ingin duduk bersamamu di sore hari tanpa banyak bicara, hanya menikmati waktu. Aku ingin membawamu ke setiap pencapaian kecilku, mendengar pendapatmu tentang hal-hal sepele, bahkan sekadar menertawakan hal yang tidak lucu.
Aku ingin kamu ada di semua bagian hidupku.
Tapi ternyata, tidak semua yang kita inginkan akan tinggal.
Hari itu, ketika kamu memilih pergi, aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Aku tidak marah.
Tidak juga menangis saat itu.
Aku hanya diam.
Seolah tubuhku belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Seolah semuanya hanya jeda singkat yang nanti akan kembali seperti biasa.
Tapi ternyata tidak.
Kamu benar-benar pergi.
Dan yang tertinggal hanyalah aku, dengan semua rencana yang tidak lagi punya tempat.
Sejak saat itu, aku belajar tentang satu hal yang paling sulit, menahan rindu.
Rindu itu aneh, Ia tidak datang dengan suara keras atau tanda yang jelas. Ia muncul diam-diam, di waktu-waktu yang tidak terduga.
Seperti ketika aku melihat tempat yang pernah kita bicarakan.
Seperti ketika aku mendengar lagu yang pernah kamu sukai.
Atau bahkan saat aku ingin bercerita… tapi tidak tahu lagi harus ke siapa.
Aku sering menahan diri untuk tidak menghubungimu.
Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku tahu, tidak semua perasaan harus disampaikan.
Kadang, mencintai juga berarti tahu kapan harus berhenti.
Aku mulai menjalani hari-hari tanpa kamu.
Awalnya terasa berat, Semua hal seperti kehilangan warna.
Aku tetap tersenyum di depan orang lain, tetap menjalani aktivitas seperti biasa.
tapi di dalam… aku tahu ada bagian yang belum sembuh.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri
“Kenapa harus kamu?”
Dari sekian banyak orang yang bisa datang dan pergi, kenapa harus kamu yang begitu sulit dilepaskan?
Mungkin karena kamu bukan sekadar seseorang yang singgah.
Kamu adalah seseorang yang sempat aku anggap rumah.
Aku ingat suatu malam, ketika hujan turun tanpa henti. Aku duduk sendiri, menatap jendela, dan untuk pertama kalinya sejak kamu pergi… aku menangis.
Bukan karena aku ingin kamu kembali.
Tapi karena aku akhirnya sadar, aku harus benar-benar merelakanmu.
Dan itu tidak mudah.
Sangat tidak mudah.
Aku mencoba mengisi hari-hariku dengan hal-hal baru. Bertemu orang-orang baru, mencoba kebiasaan baru, bahkan sesekali memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.
Tapi rindu itu tetap ada.
Ia tidak hilang.
Ia hanya berubah bentuk.
Tidak lagi sesakit dulu, tapi tetap terasa.
Seperti luka yang sudah kering, tapi masih meninggalkan bekas.
Aku mulai belajar satu hal,
Bahwa tidak semua cerita harus berakhir dengan kebersamaan.
Kadang, seseorang hadir hanya untuk mengajarkan kita arti kehilangan.
Dan mungkin… kamu adalah pelajaran itu.
Waktu terus berjalan.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Dan perlahan, aku mulai bisa menerima kenyataan.
Bukan berarti aku melupakanmu.
Aku hanya belajar untuk hidup tanpa menggantungkan kebahagiaanku padamu lagi.
Sekarang, ketika aku mengingatmu, rasanya sudah berbeda.
Tidak lagi sesakit dulu.
Tidak lagi membuatku kehilangan arah.
Aku bisa tersenyum… meskipun sedikit pahit.
Karena pada akhirnya, aku sadar:
Aku pernah mencintai seseorang dengan tulus.
Dan itu tidak sia-sia.
Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku harap aku sudah benar-benar baik-baik saja.
Aku harap aku bisa melihatmu tanpa rasa ingin kembali.
Aku harap aku bisa berkata dalam hati:
“Terima kasih sudah pernah ada.”
Dan untukmu, yang pernah menjadi bagian dari semua rencanaku…
Aku tidak membencimu karena pergi.
Aku hanya belajar menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki.
Sekarang, aku masih di sini.
Masih dengan rindu yang sesekali datang.
Masih dengan kenangan yang belum sepenuhnya hilang.
Tapi aku tidak lagi berharap kamu kembali.
Karena aku tahu, beberapa orang memang ditakdirkan untuk tinggal hanya dalam kenangan.
Dan aku, akan belajar melanjutkan hidup.
Tanpa kamu.
Dengan rindu yang aku simpan sendiri.
Reviewed by Silo Langi
on
6/02/2026 11:58:00 AM
Rating:

.jpg)

No comments: