Bincang Seni #14, Diskusi Karya Sastra Lokal Sulawesi Tengah

Foto by: Aulia, SL/"Pemaparan Materi yang dibawakan oleh Dr. Gazali Lembah"

SilolangiNews-Palu. Komunitas Seni Lobo menggelar Bincang Seni sebagai bagian dari rangkaian Festival Sastra Tadulako Notutura 2023 berlangsung di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Kota Palu, Minggu (2/09/2023).


Dialog terbuka ini menghadirkan Dosen Universitas Tadulako Palu Dr. Gazali Lembah dan juga pegiat literasi Palu Neni Muhidin, dengan mengusung tema “Melihat Regenerasi Bahasa Daerah Melalui Karya Sastra, Sudahkah Genting?”.


Dalam sesi paparan materinya, Neni Muhidin mengungkapkan bahwa dinamika karya sastra berbahasa daerah sama problemnya dengan penggunaan bahasa Indonesia, pemertahanan bahasa di ruang publik dan yang menjadi problem mendasar dari karya sastra berbahasa daerah adalah keterbacaan.


“Pertimbangan menerbitkan itu kita jangkau orang dan problem mendasar dari karya-karyanya kita di Palu ini adalah keterbacaan. Kita produktif menghasilkan karya, memproduksi buku dan seterusnya, tapi yang menjadi tantangan adalah menjawab keterbacaan keterjangkauan buku ini ke banyak orang, jadi problem keterbacaan ini jadi catatan,” paparnya.


Foto by: Aulia, SL/"Pegiat Literasi Neni Muhidin dalam Sesi Pemaparan Materi "


Neni Muhidin juga membagikan upaya menumbuhkan ketertarikan pembaca pada karya sastra berbahasa daerah.


“Saya itu mendalami Kaili awalnya bukan sebagai bahasa, itu sebagai makna makanya saya itu suka sekali menelusuri lema bukan bahasa Kaili sebagai percakapan tapi sebagai kata-kata. Orang yang ingin mendalami bahasa atau misalnya dia sastrawan kata itu memantik rasa ingin tau yang lebih dalam. Bahasa daerah memang tumbuh sebagai makna apalagi sastra ada dilapis-lapis dalam, percakapan dilapis kulit arinya kalau sastra dia mengajak kita untuk masuk ke dalam. Bahasa Kaili itu sastra sekali karena dia mengajak kita untuk punya kuriositas punya rasa ingin tahu yang tidak sekadar kata itu bisa ditaruh sebagai percakapan tapi sebagai makna,” terangnya.



Sementara Gazali Lembah dalam penuturannya aktif membahas penggunaan bahasa daerah yang terancam punah atau terpinggirkan.


“…Saya membagi kuis kepada anak SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa. Masing-masing delapan puluh orang. Anak SD sedih saya, pertanyaannya sederhana orang tua saya menggunakan bahasa Kaili berkomunikasi sehari-hari dengan saya, jawabannya itu tinggal dia pilih selalu/kadang/tidak pernah, jawabannya 80 tidak pernah. Tapi ketika saya tanya lagi orang tua saya berbahasa Kaili dengan ibu saya begitu kakaknya begitu juga adeknya masih, tapi anak SD tidak, anak mahasiswa menjawab itu. Artinya Ibunya itu usia 40an tahun tetapi Ibu-ibu muda tidak lagi ini tentu menyedihkan. Kalau sudah bahasa ditinggalkan maka roh berupa culture di dalamnya otomatis akan hilang” ungkapnya.


“…mahasiswa ketika di cafe kamu tau persis temanmu itu yang baru datang orang tau berbahasa Kaili, apa kau menyapa dia dengam bahasa Kaili? jawaban 80 orang itu hanya kadang-kadang. Kalau itu tidak digunakan ibaratnya kaki ini coba bapak/ibu tidur seminggu jangan gunakan kaki linu ketika jalan, tambah kelamaan akan menjadi kecil, juga bahasa kalau tidak digunakan dia akan mati” lanjutnya.


Akademi UNTAD, Gazali Lembah, cara termudah untuk menjaga dan mempertahankan bahasa daerah dengan mengabadikannya dalam bentuk karya sastra tulis yang kemudian dibukukan atau dalam bentuk nyanyian yang dinyanyikan.


Penulis: Nurhikma, SL

Bincang Seni #14, Diskusi Karya Sastra Lokal Sulawesi Tengah Bincang Seni #14, Diskusi Karya Sastra Lokal Sulawesi Tengah Reviewed by Silo Langi on 9/03/2023 08:36:00 PM Rating: 5

No comments: