![]() |
| Foto by: Walo/SL "Peserta Lomba LTO dalam posisi start" |
SiloLangiNews-Palu. Kabut malam perlahan luput, disusul cahaya bulan yang mulai redup. Kami bangun sebelum fajar mulai merekah. Bersama panitia dan volunteer, mereka bergegas untuk mempersiapkan lomba. Sebuah agenda tahunan yang dilaksanakan 2 tahun sekali oleh Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA ) LALIMPALA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (UNTAD), Lomba Total Orienteering sudah digelar sebanyak 8 kali oleh MAPALA LALIMPALA. Lomba Total Orienteering sendiri merupakan perlombaan yang dilakukan untuk mewadahi mereka yang ingin menyalurkan hobi atau minat mereka terhadap olahraga lari dengan kesiapan fisik atau mental serta didukung oleh basic atau ilmu dasar navigasi.
“Kegiatan total orientaring merupakan salah satu kegiatan yang kami laksanakan 2 tahun sekali. Eee, kegiatan ini merupakan kegiatan skala nasional dan kegiatan ini sudah kami lakukan sebanyak 8 kali. Dan lomba total orientaring itu sendiri merupakan salau satu kegiatan yang mengandalkan kecepatan dan juga pemahaman navigasi” tutur ketua umum MAPALA LALIMPALA, Dirham Abdillah (23/07/2026)
Salah satu peserta yakni Sultan yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Ikut memberikan penjelasan terkait pemahamannya dalam lomba total orienteering. Sultan menjelaskan bahwa lomba total orienteering ini adalah lomba yang sudah melegenda, dikarenakan telah lama diselenggarakan oleh MAPALA LALIMPALA dan perlombaan ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu plotting koordinat. Jadi, Sultan sebagai pemain orienteering sangat senang dan ingin mencoba hal-hal baru.
Hal yang sama dikemukakan oleh Faldi, salah satu peserta yang berasal dari MAPALA SANTIGI FISIP UNTAD, terkait pemahamannya terhadap kegiatan lomba total orienteering ini. Kata Faldi, yang paling utama dalam Lomba Orienteering adalah mengasah kemampuan berpikir dan juga fisik, yang tentunya perlu juga dibekali dengan ilmu navigasi untuk membantu kita dalam perlombaan.
Dalam kegiatan Lomba Total Orienteering kali ini, MAPALA LALIMPALA mencoba menggagas konsep yang bernama “War Orienteering” yang sangat inovatif untuk menjadi daya tarik bagi peserta/pengunjung dalam kegiatan Lomba Total Orienteering kali ini.
“Kalau yang berbeda yang pertama inikan ETA (Estimasi Time of Arrival) pertama. Baru eee itu si war orienteering, mereka bermain sistemnya, chaos dikasih chaos, dari satu desa ke desa kedua. Kedua, ketiga, habis itu balik lagi. Itu baru pertama kali saya temukan di sini, selama saya ikut orienteering belum pernah”. Ujar sultan (24/07/2026)
Jumat (24/7), hari pertama Lomba Total Orienteering dilaksanakan. Pada hari itu, peserta terbagi menjadi 3 kategori, yakni umum, umum putri, dan pelajar. Semuanya terdiri dari 70 tim dan bersiap untuk melaksanakan perlombaan. Tim-tim tersebut terdiri dari 2 orang dan berasal dari berbagai macam latar organisasi dan daerah. Seperti Gorontalo, Makassar, dan Semarang. Mereka semua berkumpul dengan tujuan dan harapan yang berbeda-beda. Ada yang ingin menjadi juara dan tak sedikit dari mereka yang ingin sekedar menambah pengalaman.
“Eee, kalau saya sendiri sangat antusias melihat peserta yang pertama mendaftar itu melebihi target kami, 80 tim. Hanya saja, yang ikut lomba kisaran 50-an tim 1 tim terdiri dari 2 orang.” Ujar ketua Mapala Lalimpala
Pada hari pertama, para peserta sangat antusias dalam mengikuti perlombaan ini. Panitia melakukan ploting koordinat atau ETP (Etape) di tiga desa di Kecamatan Lindu, yakni Desa Puro, Desa Langko, dan Desa Tomado.
“Untuk titik start-nya itu ada 3 tempat di Desa Puro, Langko, dan Tomado. Kalau untuk ETP duanya ada di Desa Anca“ Jelas ketua panitia, Kevin Kigen, (23/7/2026)
Dalam prosesnya, perlombaan ini tentunya tak lepas dari peran panitia. Dirham menjelaskan, proses panitia kegiatan lomba orienteering tentunya sangat panjang. Itu semua dimulai dari 1 tahun sebelumnya, bahkan telah berproses pada kepengurusan sebelumnya dan dilanjutkan di kepengurusan baru tahun ini. Mereka mulai bergerak di bulan 2 dengan mempersiapkan semua hal, dimulai dari teknis, nonteknis, administrasi, perlengkapan-perlengkapan, dan lain sebagainya. Adapaun juga karena Lomba Total Orienteering tahun ini merupakan program mereka yang kebetulan menjadi salah satu agenda dari festival Danau Lindu.
Kehadiran kegiatan Lomba Total Orienteering yang dilaksanakan bersamaan dengan Festival Danau Lindu cukup memberikan kesan yang baik bagi para peserta sekaligus pengunjung pada kegiatan ini. Salah satunya datang dari Sultan, yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah, yang menyampaikan kesan yang ia dapatkan ketika lelaki itu pertama kali bertandang ke Lindu. Dia cukup kaget dengan antusiasme masyarakat yang berada di Kecamatan Lindu. Karena menurutnya masyarakat di sini bukan hanya sekadar menikmati atau melihat-lihat saja, akan tetapi mereka juga telah mempersiapkan mulai dari jualan, menghias desa, dan juga membuat hiburan untuk para pendatang. Ia menambahkan harapannya untuk kegiatan ini ke depannya agar tetap diadakan dan juga tetap dijaga kelestariannya.
“Untuk kesan saya eee, memang Festival Danau Lindu dan LTO ini membuat saya banyak belajar, mulai dari kebudayaan, mulai dari cara bermain orienteering, dan juga perbedaan di setiap budaya, dan juga untuk pesan saya, tetap diadakan dan juga tetap dijaga kelestarian yang ada di Sulawesi Tengah, terutama di Danau Lindu ini.” Tutur Sultan.
Penulis: Aswad/SL, Alisha (Wartawan Magang)
Eidtor: Sulfia/SL
Reviewed by Silo Langi
on
7/31/2026 11:47:00 AM
Rating:







No comments: