Refleksi Budaya Senioritas yang Seharusnya Sudah Lama Mati

 




Photo by: LPM Silo Langi


Sebagai mahasiswa yang bergelut di dalam dunia organisasi, terutama di Himpunan Kemahasiswaan Program Studi (PRODI), sudah merupakan tanggung jawab untuk memiliki loyalitas dan ketekunan kepada Himpunan. Namun, selama dua tahun menekuni kedua hal tersebut, yang saya dapatkan bukanlah ilmu dan kenyamanan, melainkan rasa takut, segan, dan perasaan inferior atas senioritas yang ada di dalamnya. 



Saat memulai kuliah di Universitas Tadulako (UNTAD), saya memiliki latar belakang sebagai orang yang tidak pernah mengikuti organisasi atau ekstrakurikuler semasa SMA, baik di internal sekolah maupun di eksternal. Memasuki masa kuliah, saya mulai tergoda untuk mengikuti organisasi setelah melihat bagaimana mereka (Anak organisasi) dengan lantangnya berteriak kata “Hidup Mahasiswa” semasa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKMB). Bagaimana orasi mereka memengaruhi isi kepala saya dan membuat saya penasaran bagaimana kalimat itu bisa diteriakkan  dengan lantang dan seberani itu.



Perasaan ini kemudian kembali menguat bagi diri saya setelah mengikuti PKMB Prodi yang dilaksanakan setelah PKMB Fakultas, sebagai bentuk pengenalan bagi Prodi dan Himpunan. Dari sinilah saya mulai berkenalan dengan banyaknya senior dan mendengar bagaimana mereka membubuhi setiap kata dengan begitu smooth. Dengan pilihan kata layaknya seorang yang “berilmu”, saya terpesona untuk menjadi seperti mereka. Hal inilah yang membulatkan keputusan saya untuk bergabung dengan organisasi.




Keinginan untuk bisa seperti “mereka”, jika melihat kembali, saya lakukan karena ingin mencari ilmu. Kepolosan sebagai mahasiswa baru (MABA) secara pribadi mungkin hal yang cukup umum untuk dapat tergoda dengan perkataan halus mereka. Namun, sesaat melihat keaslian bentuk Himpunan sekarang dengan dinamika yang ada di dalamnya, sebenarnya adalah tamparan keras kepada saya karena menyaksikan bagaimana dinamika yang ada di dalamnya bukanlah sesuatu yang dapat diambil positifnya maupun diaktualkan sebagai suatu manfaat. Melainkan sifat negatif yang muncul dari rasa sebagai senior yang berakhir dengan menjatuhkan satu sama lain akan ego yang di bawahnya. 




Dihadapkan dengan pemandangan seperti itu, saya mulai mempertanyakan apakah pilihanku ini benar, karena bukannya ilmu yang saya dapatkan, melainkan rasa ketidaknyamanan dari para senior karena mereka tidak berisi dalam basic keilmuan dan hanya memodalkan senioritas saja. Hal seperti ini menjadi sebuah alasan untuk membuat saya mempertanyakan apakah loyalitas dan ketekunan kepada Himpunan itu masih harus saya lakukan. 




Jika kita berusaha kritis dalam hal ini, kita hanya akan berakhir dengan terasing, padahal sudah seharusnya sebagai mahasiswa kita menjadi kritis dalam menilai setiap persoalan sekecil apa pun. Oleh sebab itu, sebagai cara penekanan, mereka akan selalu membawa makna tanggung jawab kepada organisasi-organisasi, walaupun kita tidak menyukai orang-orang di dalamnya. Namun, mau sampai kapan, harus berlindung dengan kata-kata itu. Saya juga mengerti, karena memang sebagai manusia, jika kita sudah memilih keputusan, kita harus menekuni keputusan tersebut. Namun, apakah orang lain berpikir sama? Tetaplah, kita semua memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain, begitu pun mengenai himpunan.




Melalui inilah saya mulai menilai bahwa ada suatu kesalahan yang telah terjadi, dan itu mengarah ke sifat senioritas yang saya lihat dalam lingkup organisasi. Budaya inilah yang menjadi permasalahan karena telah menjadi sebuah mindset kepada kita yang tertanam secara tidak sadar: jiwa ingin dihormati, dihargai, membuat mereka lupa bahwa Himpunan itu seharusnya menjadi tempat mencari ilmu, bukan ladang unjuk kekuasaan yang menyedihkan. Saran dan kritik hanya akan menghambat jalannya organisasi itu sendiri, namun sebenarnya merekalah yang menghambat organisasi.
Dan budaya inilah yang nanti akan diteruskan kepada kader-kader seperti kita, menciptakan siklus yang tidak pernah berakhir. Namun, bukan berarti kita tidak harus mencoba untuk memutusnya. Jika perlawanan tidak dilakukan terhadap penyakit lama ini, maka akan terus menular kepada setiap orang di dalamnya. Oleh karena itu, jangan tanyakan kenapa Himpunan itu mati.




Maka dapat dilakukan perubahan mindset akan apa itu senior, di mana kita mungkin mulai melihat mereka bukan sebagai senior, melainkan setara sebagai seorang rekan, melihat apa yang dapat diberikan kepada kita dan Himpunan. Bukan hanya perkataan semata, tetapi juga tindakan dan ilmu yang bermanfaat bagi Himpunan. Kedua introspeksi diri bagi pengurus karena sebagai penggerak organisasi seharusnya dapat menilai apa yang baik dan benar bagi jalannya sebuah himpunan, bukan berpatokan pada mereka yang hanya datang untuk mencari validasi. Karena seharusnya kita sebagai pengurus bisa sadar bahwa mungkin kesalahan ada pada kita juga. 




Mungkin saja perubahan sekecil itu dapat menciptakan sebuah tempat yang nyaman bagi pengurus, anggota, dan senior yang memang bermanfaat bagi organisasi. Dengan hilangnya senioritas, rasa segan dan juga rasa ketakutan bagi para anggota akan hilang. Maka dapat menciptakan ruang yang inklusif, membuka sepenuhnya Himpunan menjadi wadah keilmuan yang sebenarnya.


Penulis: Kata Kala

Editor: Sulfia/SL






Refleksi Budaya Senioritas yang Seharusnya Sudah Lama Mati Refleksi Budaya Senioritas yang Seharusnya Sudah Lama Mati Reviewed by Silo Langi on 5/25/2026 08:16:00 PM Rating: 5

No comments: