Ayah..

    

Penulis                  :  Irfan Hamka
Penerbit                :  Republika
 Tahun terbit        :  2013
Jumlah halaman  :  324 halaman



Buya Hamka, nama yang tidak asing bagi kalangan rakyat Indonesia khususnya umat Islam. Buya Hamka dikenal sebagai ulama besar, cendikiawan, sastrawan dan pemuka masyarakat. Buku ini membuat kita mengetahui hal-hal yang bersifat pribadi dalam diri seorang Buya Hamka. Melalui pendekatan pribadi sang anak, Irfan Hamka yang merupakan anak kelima dari buya hamka, pembaca akan mengetahui bagaimana keseharian Buya Hamka  sebagai ayah, suami dan sahabat yang baik dan bijaksana.


Buku ini dibagi menjadi sepuluh bagian. Masing-masing bagian mempunyai kisah-kisah tersendiri, seperti yang terdapat dalam bagian kedua, Irfan dengan ringan menuturkan sifat-sifat Buya Hamka sebagai seorang ayah yang beribawa, ayah yang menjadi guru mengajinya hingga menjadi guru silatnya. Bagian ketiga mengisahkan bagaimana Buya Hamka berdamai dengan jin. Selanjutunya akan dihadirkan kisah perjalanan haji Buya Hamka, ummi dan Irfan dengan menggunakan kapal. Terdapat juga kisah yang akan mendebarkan pembaca yaitu ketika Buya Hamka melakukan perjalanan darat dari Baghdad-mekkah sejauh 6000 kilometer.


Khusus pada bagian delapan, penulis menyelipkan sepenggal kisah tentang Buya Hamka dan kucing kesayangannya, Si Kuning. Saking dekatnya hubungan keduanya, ketika Buya Hamka ditahan pada rezim Soekarno, si kuning menjadi gelisah dan mencari keberadaan Buya Hamka ke seluruh ruangan rumah. Buya Hamka senantiasa merawat si kuning dengan penuh kasih sayang.

Bagian Sembilan dalam buku ini dibahas beberapa kisah bagaimana buya hamka memiiki sifat berjiwa besar dan kesabaran yang luar biasa terhadap orang yang telah memfitnahnya bahkan membencinya. Ketiga tokoh yang memiliki “masalah” dengan buya hamka ini yaitu Soekarno, Moh. Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.

Dalam mempertahankan Akidah pun Buya hamka tak bisa diajak kompromi, seperti fatwanya ketika menjabat sebagai ketua MUI mengenai haramnya umat islam untuk merayakan natal bersama. Tetapi fatwa tersebut ditolak pemerintah, dan Hamka mengambil keputusan mundur dari jabatannya.

Potongan-potongan kenangan sepanjang 33 tahun yang dialami irfan hamka mulai dari usia lima tahun (1948) hingga Buya Hamka wafat (1981) ini dikemas dengan pendekatan popular. Sehingga pembaca bisa memahami dengan mudah. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, penulis membuat pembaca mengenal akrab pribadi Buya Hamka.

Buku ini, sebagaimana buku lainnya, pun juga memiliki kekurangan walaupun kekurangan tersebut jauh dibanding dengan lebihnya. Mungkin karena memang sudut pandang yang dbangun ialah bagaimana seorang anak melihat sosok ayahnya, sehingga tidak membersamai kehidupan Buya Hamka pada sisi yang lainnya. Tapi membaca buku ini adalah soal teladan yang sudah perlahan hilang dari generasi sekarang. Buku inilah secercah jawaban ditengah krisis keteladanan yang ada hari ini.

(Riskia.SL)|

Ayah.. Ayah.. Reviewed by silo langi on 5/10/2017 09:25:00 PM Rating: 5

No comments: